Selasa, 11 Maret 2008

Lika liku pengusaha dari awalnya karyawan

Seseorang yang sudah berikrar untuk menjadi pengusaha, tidak berarti ia tidak boleh mengawali prestasi kewiraswastaannya itu dengan jalan bekerja terlebih dahulu. Sebab, dengan bekerja ia bisa mengumpulkan uang guna dipakai sebagai modal, dan iapun bisa belajar mengenai banyak hal, yang nantinya bisa bermanfaat sebelum ia terjun sendiri kedunia wiraswasta.
Beberapa nama bisa kita ambil sebagai contoh dari orang-orang yang bekerja sebagai karyawan atau profesional untuk kemudian berhasil muncul kepermukaan sebagai tokoh pengusaha. Nama-nama itu antara lain Dr. An Wang, pendiri Wang Laboratories Inc. di Lowell, Massachussetts, Amerika Serikat, Enny Hardjanto yang mendirikan PT. Hanesa Endera Sakti setelah sekian lama bekerja di Citibank, Rudy J. Pesik dengan Pesik International Group dan lain-lain.
Begitu juga “komitmen” tidak mengharamkan seseorang untuk merintis usaha, dengan mengambil batu loncatan dari pekerjaan sambilan lebih dulu.
Sebaliknya, mereka yang berniat bekerja sebelum berwiraswasta juga harus waspada terhadap apa yang dinamakan sebagai “efek kelembaman”. Efek kelembaman adalah suatu kecenderungan dari segala sesuatu dialam ini, untuk terus berada dalam keadaannya sekarang. Sesuatu yang bergerak, berkecenderungan untuk terus bergerak sedangkan yang ada dalam keadaan diam, condong untuk tetap diam.
Baduara dalam bukunya “Salesmanship” , melukiskan efek kelembaman tersebut dengan contoh sebuah mobil, yang membutuhkan tenaga dorong yang besar sekali pada saat merubah keadaannya dari “diam”, menjadi “bergerak”. Ini dibuktikan dengan kenyataan bahwa mobil perlu diposisikan pada persneling satu, agar memperoleh tenaga dorong yang besar untuk keperluan itu. Kesimpulannya, sesuatu yang diam akan terus cenderung diam, sehingga untuk merubahnya ke keadaan lain (“bergerak”), diperlukan usaha yang besar.
Dilain pihak, mobil yang sudah bergerak, akan mudah untuk digerakkan lebih cepat, karena, efek kelembaman memudahkan sesuatu yang bergerak untuk tetap bergerak. Orang yang membiasakan diri bermalas-malas, akhirnya akan terus menjadi pemalas; untuk merubahnya menjadi orang rajin, diperlukan usaha keras. Maka, orang perlu memelihara diri untuk tetap rajin dan bergiat secara konsisten, agar bisa menjauhkan diri dari kemalasan.
Para calon wiraswastawan, yang sudah memulai karirnya dengan menjadi pegawai lebih dahulu, dikuatirkan akan mengalami efek kelembaman ini. Yaitu, pada suatu saat nanti dimana kondisinya sudah memungkinkan untuk terjun berusaha, ternyata terlanjur “malas” atau “keenakan” menjadi pegawai. Dan lunturlah komitmen semula untuk menjadi pengusaha tangguh.
Disinilah kita bisa menarik kesimpulan tentang diperlukannya secara mutlak sikap mental yang baik sebagai pengusaha atau calon pengusaha. Oleh sebab itu, disini harus ditekankan bahwa kalau ingin berwiraswasta, jadilah wiraswastawan yang baik.

( sumber dari milist trainer )

waduh...waduh...kadang-kadang aku menggunakan waktu kantor untuk memikirkan usaha je, habis untuk resign gak boleh sih!
moga apa yang aku lakukan ini bisa aku perbaiki karena aku tahu ini salah, jadi aku berharap ada yang memberitahu aku jalan keluarnya!

Tidak ada komentar: