Selasa, 11 Maret 2008
contoh kata-kata tuk menjual
Sekedar pengumuman, bahwa
alat untuk .... sekarang sudah bisa dipakai atau di download ,silahkan lihat di www....
Silahkan bapak/ibu melihat atau pun mencobanya, semoga bermanfaat dan mohon bantuannya untuk
menyebarkan informasi ini.
Terima kasih.
Memperkuat Rasa Syukur
atau keberuntungan dalam hidup kita. Lalu bagaimanakah caranya memupuk dan mengembangkan rasa syukur kita ?
Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan, terutama bagi Anda yang belum menjadikan syukur sebagai sesuatu yang otomatis.
Cara pertama adalah dengan membuat Jurnal Rasa Syukur, yaitu sebuah buku atau catatan harian yang berisi semua ungkapan rasa syukur, ucapan terima kasih, kesenangan atau peristiwa keberuntungan yang Anda alami selama ini. Michael Losier menyebutnya sebagai Jurnal Bukti Kemakmuran (Journal of Abundance Evidence). Saya lebih senang menyebutnya sebagai Buku Harian Keberuntungan (Lucky Diary) sebagaimana istilah yang dikemukakan oleh Richard Wiseman dalam bukunya Luck Factor.
Dengan membuat Buku Harian Keberuntungan, maka kita akan menyadari bahwa nikmat yang diberikan Tuhan itu sangat banyak yang sudah kita rasakan, walaupun sebenarnya sangat jauh lebih banyak dari yang kita mampu menghitungnya. Dengan membuat Buku Harian Keberuntungan, kita akan lebih menyadari betapa Tuhan mencintai makhlukNya. Betapa beruntungnya kita. Dengan kesadaran itu, maka kita akan mudah bersyukur kepadaNya. Buku Harian Keberuntungan juga akan membuat kita terus merasa berkelimpahan. Perasaan kita jadi enak (feel good) dan pada akhirnya akan mengaktifkan Hukum Ketertarikan.
Bagi orang-orang yang merasa bahwa hidupnya belum beruntung, penuh dengan kesialan dan penderitaan, maka cara ini cocok untuk dilakukan. Karena jika orang-orang semacam ini terus mengeluh dan mengeluh terus, maka mereka akan semakin jauh dari keberuntungan. Hukum Ketertarikan tidak akan bekerja pada orang-orang yang feel bad. Oleh sebab itu bersyukurlah agar bisa feel good. Bersyukurlah terhadap hal-hal rutin yang jarang kita syukuri, misalnya kesehatan kita, keluarga kita dan sebagainya.
Cara kedua adalah dengan melihat ke bawah, yaitu memperhatikan orangorang yang lebih tidak beruntung dibandingkan kita, antara lain orang-orang yang lebih miskin, lebih bodoh, lebih susah, lebih menderita, lebih gendut, lebih jelek, lebih sial dan sejenisnya.
Bersyukurlah karena Anda memiliki pekerjaan, sementara banyak orang terpaksa harus mengemis untuk hidup. (Lihat di jalanan, banyak anak-anak terpaksa mengemis agar tetap survive). Bersyukurlah Anda dapat mengenyam pendidikan yang layak, sementara banyak orang yang membacapun tidak bisa. (Lihat di daerah terpencil dimana para orang tua belum sadar dengan pentingnya pendidikan). Bersyukurlah Anda masih dapat makan tiga kali sehari, sementara di belahan dunia yang lain banyak orang yang menjadi kurus kering dan kurang gizi (Lihat di beberapa negara Afrika yang rakyatnya menderita karena perang dan kelaparan). Dan bersyukurlah karena Anda masih dapat bernafas, sementara banyak orang yang untuk bernafas saja masih memerlukan bantuan. (Lihat di berbagai rumah sakit dimana orang memerlukan alat dan mesin agar bisa tetap bernafas).
Cara ini juga bisa dipakai jika Anda mengalami suatu kesialan atau kejadian yang tidak menguntungkan. Pandanglah kesialan Anda dari sisi yang positif, perlunaklah dampak kesialan itu dan bayangkan bahwa keadaan bisa lebih buruk lagi. Ungkapan-ungkapan seperti, Untung cuma kepleset, coba kalau jatuh, Untung masih selamat, penumpang yang lain pada mati, Syukurlah hanya rugi sedikit, belum sampai satu milyar, Tidak naik kelas nggak apa-apa, berarti guru-gurumu masih menyayangimu , Gajiku hanya naik 5%, tapi aku bersyukur karena di perusahaan lain banyak yang tidak naik gaji dan sebagainya, adalah contoh-contoh memandang kesialan atau ketidakberuntungan secara positif agar Anda tidak semakin larut dalam kesedihan dan Anda akan tetap bersyukur. Saya kira dalam falsafah Jawa sangat dikenal prinsip ini, makanya banyak orang tua memberi nama anaknya Untung atau Bejo.
Mungkin Anda bertanya, Lha, kalau kita bersyukur terus, kapan majunya, apakah ini tidak berarti pasrah dengan keadaan dan tak mau berusaha agar lebih baik ? Pertanyaan yang bagus. Tetapi harus diingat bahwa kita berbicara mengenai hal yang telah terjadi, bukan masa depan. Ini hanyalah masalah waktu terjadinya (kalau di dalam pelajaran Bahasa Inggris disebut dengan tenses, ada past tense ada juga future tense). Kunci jawabannya adalah semua yang telah terjadi harus disyukuri, karena tidak ada gunanya disesali. Aa Gym sering membuat perumpamaan, Kalau nasi sudah menjadi bubur, ya sudah. Tambahkan santan, kasih irisan daging ayam, kasih bawang goreng dan krupuk. Maka jadilah bubur ayam. Jadi, ambil sisi positif dari kejadian yang sudah terjadi. Sedangkan yang menyangkut masa depan, boleh disyukuri dan sangat disarankan untuk mengharapkan yang lebih baik. Bisa dipahami kan ?
Kembali ke cara bersyukur, cara yang ketiga adalah dengan banyak memberi, bersedekah, bermurah hati dan melayani orang lain. Dengan banyak memberi (bukan hanya uang, tetapi apapun juga), maka akan tercipta mentalitas kelimpahan (abundance consciousness) sehingga kita akan lebih bersyukur lagi dan akan mengaktivasi Hukum Ketertarikan. Akhirnya hidup kita akan lebih beruntung lagi. Begitu seterusnya, yang akan berulang lagi seperti sebuah siklus atau lingkaran, tapi lingkaran malaikat, bukan lingkaran setan.
Dan cara keempat, mulai dan akhiri hidup Anda setiap hari dengan rasa syukur. Ketika mau tidur, ucapkan syukur kepada Tuhan, masukkanlah ke dalam hati, rasakan betapa Tuhan telah melindungi hidup Anda selama seharian penuh. Teruslah mengucap syukur sampai Anda terlelap dalam tidur (saat otak dalam gelombang alpha atau theta). Dengan demikian maka tidur Anda akan tenang dan damai, tidur yang berkualitas, tidur yang bisa menghadirkan ide-ide segar ketika Anda pasif di gelombang alpha, theta dan delta. Demikian pula, lakukan hal yang sama ketika Anda bangun tidur di pagi hari. Bersyukurlah karena Tuhan (melalui para malaikatNya) telah menjaga Anda sepanjang malam. Bersyukurlah karena Anda bisa bangun dengan segar di pagi hari dan siap untuk melakukan aktivitas dengan bersemangat lagi di hari yang baru. Dengan cara itu maka hidup Anda akan selalu diliputi oleh rasa syukur. Wish You Luck. (SA).
milist trainer
Batu
Batu yang pertama adalah batu syukur, warnanya putih bersih berbentuk lonjong seperti batu yang terdapat di laut, sedang fungsinya adalah aku harus mensyukuri apa-apa yang telah kumiliki selama hidup ini, kmdn juga apa-apa yang telah aku peroleh pada hari ini.
Batu yang kedua adalah batu istighfar, warnanya hitam legam tidak rata dan mempunyai sudut lancip yang banyak serta tajam seperti batu yang terdapat di sungai dangkal daerah pegunungan, fungsinya aku beristighfar memohon ampunan pada Allah atas dosa-dosaku selama ini serta karena posisiku dalam keadaan terdzalimi ( oleh guru, teman, atasan , dll ) maka aku mohon pada Allah untuk mengganti dengan sesuatu yang lebih baik.
Dan yang ketiga yaitu batu sukses, batu dengan warna campuran antara hitam dan putih, bentuknya agak lonjong seperti batu yang banyak terdapat di pinggir jalan, fungsinya yaitu untuk merasakan bahwa sukses adalah jalan hidupku.
Dari evaluasiku sekarang ( setelah ke-3 batuku tsb hilang ) dapat disimpulkan bahwa hanya batu syukur dan batu istigfar yang sangat... dan sangat memiliki pengaruh kuat dalam hidupku untuk menjauh dari jurang keputus-asaan.
Sedang untuk batu sukses, saya merasa sedikit manfaatnya bagiku sampai saat ini, apa karena hilang batu tersebut terlalu cepat ya....? sehingga aku merasa pejalanan di jalan suksesku sangat lambat.., hehehe :-)
Salam pencari sukses
Agung Supriyadi
'kemronggo"
* Senang karena melihat keberhasilan teman dalam mengakselerasi bisnisnya
* Sedih karena aku masih berkutat dengan luka-luka penderitaan masa lalu yang sampai sekarang masih terasa sakit dan belum sembuh benar, dan juga belum bisa mempercepat gerak dalam mengejar cita-cita. Istilahnya "kemronggo" melihat keberhasilan teman.
Dalam bahasa sederhananya, sekarang episodeku adalah fokus mengurangi pijakan rem ( fokus untuk bangun dari keterpurukan ) baru setelah itu menambah gas ( akselerasi bisnis ) .
Semoga dalam episode ini aku tetap bahagia.
Semoga orang-orang yang telah menjerumuskan aku dalam penderitaan juga bahagia.
(Karena saat ini aku baru belajar tentang kemurahan hati salah satunya adalah jiwa pemaaf)
Salam kebangkitan
Agung Supriyadi
Kekuatan Doa dalam transaksi bisnis
Saya yakin, sebetulnya semua orang sudah tau tentang kekuatan do’a. Ngga perlu diajarin pasti deh udah pada tau semua. Cuma, saya ingin share pengalaman aja tentang ini, tentang do’a, tentang kuasa Sang Khalik, tentang the invisible and invincible hands n power. Karena saya yakin topik ini bagus sebagai pembuka di blog saya…
Ceritanya begini :
Waktu itu, saya tidak lagi bisa disebut sebagai seorang tour leader dan tour operator pemula walaupun juga sangat tidak bisa dibilang master. Kemampuan saya jualan incentive tour ke China bagian selatan -meliputi Hong Kong, Shenzhen, Guangzhou, Zhuhai, Macau dan Shanghai -mulai dari pemilihan supplier yang akan menjadi partner, negosiasi biaya dengan supllier, penghitungan biaya tour (penghitungan ini tidak hanya major costs yang besar, tapi sampai ke pernik-pernik biaya seperti tip guide, tip porter, dll), menentukan margin dan harga jual, membuat bidding document yang kompetitif, hingga pelaksanaan pada hari Hnya- bisa dibilang cukup bagus. Walaupun di kota saya, Jogja, masih ada beberapa orang tour operator yang mempunyai kemampuan dan knowledge lebih dalam dari saya tentang kota-kota tersebut, tapi bisa dibilang kemampuan dan knowledge saya masih diatas rata-rata.
( Catatan : incentive tour adalah tour yang sengaja dibuat untuk keperluan suatu atau beberapa institusi, bisa bertujuan untuk memberikan apresiasi atas prestasi peserta tour, bisa bertujuan memberikan wawasan kepada peserta tour, bisa juga untuk tujuan lain)
Nah….pada saat itu, ada permintaan untuk incentive tour ke kota-kota tersebut. Segera saja saya siapkan semuanya : saya kontak supplier-supplier saya seperti airline, local agent dan lain-lain. Pelanggan yang minta dibuatkan incentive tour ini memberikan waktu yang cukup bagi beberapa travel agent di Jogja untuk memberikan penawaran terbaiknya.
Tibalah waktunya bagi travel agent peserta bidding untuk mempresentasikan bidding document masing-masing. Presentasi dilakukan di depan seluruh calon peserta tour secara bergantian di ruang tertutup. Pada saat menunggu seluruh calon peserta tour berkumpul, saya dan peserta bidding yang lain disuruh menunggu di ruang tunggu.
Perang psikologispun dimulai. Biasalah….ada yang menyampaikan ‘pesan tersembunyi’ di balik pertanyaan, ada yang menyampaikan ‘pesan tersembunyi’ di balik pernyataan verbal maupun non-verbal dan lain-lain….
Saya sering geli kalo ketemu situasi seperti ini. Ada saja kreatifitas orang untuk mencoba menaklukkan pesaingnya lewat psycho-war semacam ini. Dan jujur, saya pun salut pada kreatifitas dan semangat juang mereka yang tinggi. Lalu, kenapa saya tidak melakukan hal yang sama?? Melemahkan pesaing lewat psycho-war??
Bukannya saya tidak melakukan. Hanya saja dalam phsyco-war saya lebih suka reactive-offends daripada melakukan active-offends. Saya memilih cara ini karena saya yakin terhadap produk yang saya jual. Saya memilih cara ini karena yakin dengan kemampuan saya. Saya lebih yakin menempuh cara ini karena kebetulan saya bekerja untuk sebuah travel agent yang telah memiliki reputasi yang baik selama lebih dari 40 tahun di dunia jasa perjalanan dan didukung oleh partner-partenr dan supplier yang terbaik dibidang masing-masing. Apalagi yang perlu saya khawatirkan???
Dan memang, waktu itu, di ruang tunggu itu, perusahaan tempat saya bekerjalah yang paling menjadi target psycho-war. Maklum saja karena memang perusahaan saya di Jogja dikenal sebagai master-nya tour outbound, tour ke luar negeri. Salah satu contoh dari psycho-war attack ke saya adalah saat saya berdiri mau ke toilet. Salah satu peserta tender nanya,’Mau kemana Mas Rian?” Saya jawab,”He2x pengen pipis Mas”. Si penanya menyahut,”Oh…mo ke toilet Mas? Toilet di lantai 1, turun tangga belok kanan, terus ikutin lorong, nah diujung lorong sebelah kiri ada toilet Mas.”. ”Terima kasih Mas, tapi saya males pake toilet yang sana, kotor, udah gitu pake naik turun tangga lagi. Saya pake toilet Pak Bos aja, cuma disitu kok”, jawab saya sambil menunjuk ke arah samping ruang Big Bos di institusi tersebut.
Saya tahu, dengan memberi tahu saya lokasi toilet, padahal saya tidak menanyakan hal itu, dia bermaksud menyampaikan pesan tersembunyi bahwa dia sudah sering ke kantor ini, dia sudah akrab dengan situasi kantor ini dan ia ingin menyampaikan pesan bahwa secara logika, kalo dia sudah akrab dengan kantor ini berarti dia kenal dengan beberapa atau banyak orang di kantor ini. Tapi, hey….lihat serangan balik saya….lebih telak dan menohok kan?? He2x…..That’s why I love reactive offends…….saya senang dengan serangan balik. Dengan jawaban saya seperti diatas, saya tidak hanya menyampaikan pesan bahwa saya JUGA mengenal lingkungan kantor ini, tapi bahkan saya memberikan pesan bahwa kalo Rian berani menggunakan fasilitas yang disediakan untuk Big Bos, berarti……..Rian juga kenal dengan Si Big Bos. Padahal…..he3x…. saya tidak benar-benar kenal dengan Si Big Bos…..saya memang mengenalnya, tapi beliau pada saat itu tidak mengenal saya. Saya hanya secara tidak sengaja pernah saat mengunjungi kantor tersebut untuk bertemu dengan orang lain, tahu dimana ruang si Big Bos dan tahu disamping ruang Big Bos ada toilet yang memang sengaja disiapkan untuk si Big Bos. He3x…..
Tahap psycho-war ternyata belum lah apa-apa….. Tahap selanjutnya adalah presentasi. Dalam tahap presentasi, seperti biasa langsung terjadi proses tawar menawar. Namun, tawar menawar tidak hanya berhenti sampai disini saja, sampai seluruh peserta bidding melakukan presentasi.
Tidak…..tidak hanya sampai disitu.
Setelah seluruh peserta bidding selesai melakukan presentasi, peserta bidding diminta pulang. Demikian juga para calon peserta tour, semua diminta pulang. Hanya sebagian calon peserta yang merupakan Panitia kecil yang berkumpul dan sepertinya akan membahas hasil presentasi.
Kebetulan, setelah presentasi, saya harus melakukan perjalanan dinas ke Semarang sehubungan dengan tugas dari kantor. Selama perjalanan dari Jogja ke Semarang inilah, handphone saya berbunyi tanpa henti. Proses tawar menawar terus berlanjut. Padahal saat itu saya meninggalkan Jogja pukul 16:30 dan tiba di Semarang pukul 20:15.
Saat itu, tender ini memiliki arti penting bagi karir saya. Kebetulan posisi saya di kantor agak kurang nyaman. Mungkin jika posisi saya di kantor sedang nyaman, kalah atau menang dalam tender ini tidak begitu penting. Saya betul-betul merasa diujung tanduk, karena saya tahu pasti pesaing-pesaing tender ini berasal dari travel agent-travel agent yang relatif nekat. Nekat dalam artian, rugi dikit tidak jadi soal asal bisa menang lawan travel agent saya. Dan proses tawar menawar sudah mulai mengarah ke harga yang tidak masuk di akal, harga jual rugi. Padahal dalam perusahaan saya yang sudah ter-manage dengan baik, tidak ada istilah jual rugi.
Setibanya di Semarang, saya langsung buka kembali hitungan saya. Saya teliti sekali lagi. Kali ini saya menelitinya sambil berharap ada kesalahan posting biaya yang ketinggian, sehingga jika saya koreksi bisa menurunkan harga jual. Saya meneliti hingga 3 kali. Namun ‘kesalahan’ yang saya harapkan, tidak saya temui. Akhirnya saya potong sedikit margin, sehingga harga jual pun sedikit turun. Saya tahu, ini tidak membantu, karena berdasar informasi terakhir, harga jual saya jika dipotong dengan profit pun, harga jual saya per orang masih USD35 lebih tinggi dari harga kompetitor. Tapi saya tidak mungkin tidak menurunkan harga. Harga jual baru tersebut segera saya informasikan kepada Panitia. Pada saat saya menyampaikan harga tersebut, Si Panitia bilang, “Wah….Mas, hargamu masih tinggi lho…..turunin lagi, kalo segini pasti kalah Mas.”
Saya pasrah waktu itu. Saya sudah tak punya pilihan lagi, sepertinya memang harus kalah. Walaupun tender ini begitu penting buat saya, namun semua kemampuan yang saya miliki tidak berarti dan tidak banyak membantu. Pengetahuan dan kemampuan saya tentang Hong Kong, Guangzhou dan Shanghai yang menjadi lokasi tujuan kunjungan group ini tidak ada artinya. Ya….saya yakin, waktu itu jika hanya mengandalkan kemampuan dan potensi saya, saya pasti kalah.....
Tiba-tiba saya ingat akan sebuah cerita yang pernah saya baca di salah satu majalah anak-anak muslim waktu saya masih kecil. Saya memang tidak ingat secara persis ceritanya, namun kurang lebih intinya ada 3 orang yang saat itu karena sesuatu hal terjebak didalam gua. Gua tersebut tertutup batu besar dan satu-satunya jalan bagi mereka untuk keluar adalah dengan menggeser batu besar tersebut. Hal itu tentunya tidaklah mudah, bahkan bisa dibilang nyaris tidak mungkin, karena selain batunya begitu besar, didalam gua tidak terdapat alat yang memadai untuk menggeser batu itu. Namun mereka percaya, Allah SWT akan membantu jika mereka berdo’a dengan sungguh-sungguh sambil mengingat amal baik yang pernah dilakukan. Maka, satu persatu dari mereka menyebutkan amal baik yang pernah mereka lakukan dan dilanjutkan dengan berdo’a. Hal ini mereka lakukan secara bergantian. Setiap kali setelah salah seorang dari mereka menyebutkan amal baik yang pernah dilakukan dan dilanjutkan dengan berdo’a, mereka bertiga menggeser batu tersebut. Dan batu itu pun tergeser sedikit demi sedikit. Karena kesungguhan dan amal baik mereka, Allah pun menunjukkan kuasaNya, kebesaranNya. Akhirnya mereka bertiga berhasil keluar dari gua tersebut.
Saya pun segera menelpon Ibu saya, saya menceritakan kesulitan yang saya alami dan memohon agar Ibu mau mendo’akan saya. Alhamdulillah, saya mendapat restu dari Ibu saya. Saya meminta do’a kepada Ibu karena saya yakin, do’a Ibu –orang yang jasanya sangat besar kepada kita – akan sangat didengar olehNya.
Saya memang bukan orang yang sangat baik. Tapi saya pun pernah menolong orang. Kebetulan, saya mengenal seorang wanita yang hidupnya kurang mampu. Selain hidup dalam keadaan serba kekurangan, sudah beberapa tahun ini beliau (sebut saja A) sakit yang mengakibatkan beliau tidak dapat beranjak dari tempat tidurnya. Saya memang tidak secara teratur membantu A, namun setiap kali saya menerima rejeki yang berlebih, saya selalu berusaha untuk menyisihkan rejeki tersebut untuk A.
Teringat akan hal ini, saya pun menelpon ke hp tetangga A (sebut saja tetangga A ini adalah B) dan minta tolong pada B untuk memperkenankan saya berbicara dengan A melalui handphone B.
“Assalamu ‘alaikum Bu….. Apa kabar??” tanya saya mengawali pembicaraan dengan Ibu A.
“Wa ‘alaikum salam…..eh Mas Rian…….Sae(baik) mas….sae(baik)…..Ada apa mas kok tumben”, sahut si Ibu.
“Inggih puniko Bu…..nuwun sewu lho…..ngganggu istirahat, sampun sare tho?
(Iya nih Bu, maaf lho, ngganggu istirahat, sudah tidur kah?)” tanya saya.
“Dereng mas…..pripun wonten punopo?
(Belum Mas….gimana? Ada apa?)”, sahutnya.
“Anu Bu…….menawi saweg mboten repot, kulo bade ndherek nyuwun tulung
(Anu Bu……..kalo sedang tidak repot, saya mau minta tolong)”, kata saya.
“Lha mbok nggih…….lha ning kulo saget nopo nggih Mas?
Boleh…..tapi apa yang bisa saya lakukan?”, sahutnya.
Saya pun cerita,“Kulo mboten nyuwun dateng Bu A ingkang macem-macem, kulo namung nyuwun pangestunipun……nyuwun dibantu mawi donga. Sakpunika, kulo saweg wonten masalah ingkang ageng, kulo sampun berusaha, ning kadosipun mboten cekap semanten kemawon. Menawi Bu A mboten kawratan, kulo nyuwun donganipun Bu…niku mawon sampun cekap,”
(Saya tidak minta tolong yang macam-macam, saya hanya mau minta restu dan do’a dari Ibu A. Saat ini saya sedang ada masalah yang besar, saya sudah berusaha, tapi sepertinya butuh lebih dari usaha untuk menyelesaikan masalah saya. Kalo Ibu A tidak keberatan, saya minta do’a dari Ibu….hanya do’a, itupun sudah lebih dari cukup.)
Ibu A menjawab,” Ooo nggih Mas…..mugi-mugi Allah maringi dalan ingkang wiyar kagem Mas Rian…..”. (Oh iya Mas…..semoga Allah memberi jalan yang lapang untuk Mas Rian…..)
Saya tidak ingat secara persis do’a yang diwejangkan kepada saya waktu itu. Perasaan emosional saya waktu itu begitu kuat…..saya hanya bisa meng-amini setiap ucapannya dan menangis…..
Ya, tidak terasa air mata saya menetes waktu itu.
Disaat kita merasa tidak berdaya, ada orang yang mau mendo’akan kita dengan sungguh-sungguh, benar-benar menyentuh perasaan saya.
Belakangan saya diberi tahu oleh B, bahwa setelah menutup telpon Bu A melakukan tayamum dan menunaikan sholat sunnah….beliau benar-benar mendo’akan saya.
Keesokan harinya, karena harus berkonsentrasi dengan pekerjaan di Semarang, saya melupakan sejenak soal tender tersebut. Posisinya masih seperti posisi akhir penawaran saya : harga saya masih diatas harga kompetitor.
Akhirnya, sekitar pukul 10:45 saya diinfo oleh bos saya…….ada fax tentang penunjukan perusahaan saya sebagai pemenang tender tersebut.
Alhamdulillah…….saya sudah tidak perduli lagi dengan meeting yang saya ikuti, saya minta ijin keluar dan sujud syukur.
Saya yakin sepenuhnya......keberhasilan ini bukanlah atas kemampuan saya, bukan karena pengetahuan saya. Pengetahuan dan kemampuan saya saja, sudah terbukti tidak cukup untuk memenangkan tender ini.
By. Rian Seriritta ( tdajoglo )
Kaizen
Mahluk apaan sih yang namanya Kaizen itu?, Kaizen sendiri didunia barat sering diterjemahkan dengan “Continuous Improvement”, perbaikan yang berkesinambungan.
Beberapa penulis buku Manajemen menuliskan bahwa dengan menerapkan konsep Kaizen ini perusahaan di Jepang menggapai sukses dipasar.
Kaizen biasanya diterapkan paralel dengan PDCA ...
Berlawanan dengan konsep yang revolusioner, lompatan jauh kedepan dan sebagainya, konsep Kaizen lebih konservatif, berubah secara bertahap dan selalu ada ruang untuk perbaikan untuk menghasilkan yang lebih baik lagi.
Dalam Agama Budha, Kaizen berasal dari arti kata “Renew the heart and make it good”, ini diartikan konsep ini memerlukan perubahan dari “The heart of business” itu sendiri, Kultur dan struktur perusahaan karena proses Kaizen menerapkan dan melaksanakan Visi perusahaan kedalam semua aspek dalam kegiatan operasianal praktis dilapangan.
Menurut Imai [1968], seorang pakar Kaizen, Kaizen artinya perbaikan, lebih jauh lagi perbaikan secara terus menerus dari cara hidup, personal, sosial dan kerja ... ini sama dengan pepatah "hari esok harus lebih baik dari hari ini" ... wah konsep Kaizen ternyata sudah ada di Indonesia sejak lama ya, cuma kita sering tidak menyadarinya.
Konsep dari Kaizen sangat cocok diterapkan pada setiap usaha, prinsipnya cuma 3 saja yaitu :
1. Karyawan adalah aset terpenting dari suatu usaha
2. Proses harus meningkat secara bertahap, jangan terlalu radikal
3. Perbaikan harus berdasarkan data/statistik sebagai tolak ukur pengukuran keberhasilan
Suport dari semua pihak didalam suatu organisasi sangat diperlukan untuk keberhasilan dari suatu usaha ...
Pengirim : Harmanto ( Tdajoglo )Lika liku pengusaha dari awalnya karyawan
( sumber dari milist trainer )
waduh...waduh...kadang-kadang aku menggunakan waktu kantor untuk memikirkan usaha je, habis untuk resign gak boleh sih!
moga apa yang aku lakukan ini bisa aku perbaiki karena aku tahu ini salah, jadi aku berharap ada yang memberitahu aku jalan keluarnya!